CIANJUR – Dalam rangka mempersiapkan mental dan spiritual para peserta didik sebelum diberangkatkan ke Jepang, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Arigatou Cipanas menyelenggarakan program Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Kegiatan ini berlangsung di Yayasan Baitun Nasri Almuyasar (Yabna), Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, pada Selasa dan Rabu (18-19 Agustus 2026).
Sebanyak 150 peserta laki-laki dan perempuan dari LPK Arigatou mengikuti agenda ini dengan penuh antusias. Setibanya di lokasi, mereka disambut langsung oleh pendiri sekaligus pengurus Yabna.
Selain kegiatan taaruf, para peserta mendapatkan berbagai materi keagamaan krusial, mulai dari pembiasaan membaca Al-Qur'an, penguatan akidah, hingga materi fikih. Pembekalan fikih ini secara khusus membahas tata cara ibadah selama berada di negeri sakura yang dikenal memiliki keterbatasan fasilitas masjid.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan salat Taubat, salat Hajat, dan salat Tahajud berjamaah. Pendiri sekaligus Pengasuh Yabna, Abi Utsman Zasiri, yang memimpin langsung sesi muhasabah, berpesan kepada para peserta mengenai pentingnya meraih ihsan (kesadaran diawasi oleh Allah) dalam ibadah.
"Salat itu merupakan totalitas ketundukan seorang hamba kepada Allah. Hakikatnya, ketika kita punya ihsan dalam hati, yaitu merasa melihat Allah, atau paling tidak yakinlah bahwa Allah sedang melihatmu. Ihsan itu membuat kita hari ini selalu sadar sedang ditatap Allah," pesan Abi Utsman Zasiri.
Kerja sama antara LPK Arigatou dan Yabna ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi para calon pekerja migran. Hal tersebut disampaikan oleh Perwakilan Pimpinan LPK Arigatou saat memberikan sambutan.
"Harapan kami, mudah-mudahan kegiatan ini menjadi wasilah yang menjadikan ilmu anak-anak kami bermanfaat. Semoga mereka menjadi anak yang saleh dan salehah, serta menjadi orang yang berguna bagi bangsa, agama, dan negara. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada segenap keluarga besar Yayasan Yabna yang telah menerima kami," ujar Perwakilan Pimpinan LPK Arigatou.
Pentingnya pembekalan teknis beribadah di negara minoritas muslim juga ditekankan oleh Pembina Yabna, Bunda Anna. Menurutnya, kondisi empat musim di Jepang mengharuskan para peserta memahami hukum fikih yang fleksibel namun tetap sesuai syariat.
"Sebelum terbang ke Jepang, mereka harus dibekali tata cara ibadah di sana. Misalnya, ketika musim salju seperti apa tayamumnya, atau salat Jumat ketika masjidnya sangat jauh apakah boleh diselenggarakan bersama teman-teman sendiri dan seperti apa teknisnya. Alhamdulillah mereka luar biasa semangat, mendapat energi dan tambahan ilmu," jelas Bunda Anna.
Pembekalan ini memberikan kesan mendalam bagi para peserta. Salah seorang Perwakilan Peserta Mabit LPK Arigatou menyatakan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan tantangan yang akan mereka hadapi di tempat kerja nanti.
"Ibadah di Jepang itu tidak sangat mudah karena faktor waktu dan pekerjaan. Di Mabit ini kita belajar bahwa istikamah dalam beribadah itu wajib. Di yayasan ini kami mendapatkan banyak ilmu, ketenangan dalam beribadah, dan menemukan kekhusyukan dalam salat. Mudah-mudahan ilmu ini kelak bermanfaat bagi kami di Jepang," tuturnya.
Kegiatan Mabit ditutup pada Rabu pagi dengan aktivitas relaksasi, pembagian hadiah dari Yabna, dan momen kebersamaan yang hangat sebelum para peserta kembali ke kampus mereka.