CIANJUR – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cianjur kembali menorehkan sejarah dalam upaya merawat kebhinekaan. Pada Minggu (23/8/2026), FKUB secara resmi meresmikan "Kampung Kerukunan" yang berlokasi di Kampung Rawa Selang, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kampung ini menjadi simbol keharmonisan di tengah pluralitas masyarakatnya, khususnya antara umat Islam dan Kristen.
Kegiatan dimulai dari titik kumpul di Kantor Desa Sindang Jaya, dilanjutkan dengan iring-iringan menuju lokasi peresmian. Puncak acara ditandai dengan pembukaan selubung papan nama Kampung Kerukunan secara langsung oleh Kapolres Cianjur bersama Ketua FKUB. Momen bersejarah ini turut disaksikan oleh Kepala Kantor Kemenag Cianjur, unsur Kodim 0608, Forkopimcam Ciranjang, serta berbagai tokoh masyarakat dari agama Islam dan Kristen.
Adapun pusat lokasi peresmian ini sangat ikonik karena berdampingan langsung dengan keberadaan sebuah Masjid dan Gereja Kerasulan Pusaka Sindang Jaya, yang merepresentasikan hidup rukun antarumat beragama di desa tersebut.
Ketua FKUB Kabupaten Cianjur dalam sambutannya menjelaskan bahwa pembentukan Kampung Kerukunan di Sindang Jaya ini merupakan capaian yang kedua setelah program sebelumnya sukses dilaksanakan.
"Ini adalah pembentukan kampung kerukunan yang kedua. Yang pertama ada di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, dengan sebutan keren yaitu 'Lembur Toleransi' yang dulu kita rintis juga bersama pihak kepolisian. Acara ini tidak akan bisa berjalan lancar tanpa sinergi dan dukungan penuh dari Polres," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Cianjur turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada FKUB Cianjur yang terus konsisten menguatkan jejak kerukunan umat di Kabupaten Cianjur demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Indonesia ini memiliki keberagaman suku bangsa, agama, ras, dan bahasa. TNI, Polri, masyarakat, semuanya insyaallah masih berkomitmen untuk bersatu di bawah bendera Merah Putih dan NKRI. Jika belakangan ini masih ada yang mempertanyakan keberagaman atau merasa agamanya paling benar dengan menjelekkan agama lain, maka pantas tidak disebut sebagai bangsa Indonesia? Jawabannya tentu tidak," tegas Kapolres Cianjur dalam pidatonya.
Kegiatan peresmian ini ditutup dengan penuh kehangatan. Suasana persaudaraan melintasi batas perbedaan keyakinan semakin terasa nyata ketika seluruh pejabat, tokoh agama, dan warga membaur menjadi satu untuk menikmati hidangan khas nasi liwet secara bersama-sama.v