Kegiatan ini menghadirkan berbagai stakeholder terkait dan menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, serta keluh kesahnya secara langsung.
Perwakilan Penyelenggara/Stakeholder Terkait dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini dikemas secara kekeluargaan untuk merangkul masyarakat di sekitar koperasi. "Tujuan dari kegiatan ini dibikin dengan kemasan silaturahmi. Koperasi itu melibatkan masyarakat yang berada di sekitarnya. Tentu saja program ini harus kita dukung dan awasi, karena sejatinya Kopdes ini adalah untuk meningkatkan daya ketahanan pangan. Koperasi Desa Merah Putih Sukasari harus menjadi teladan se-Kabupaten Cianjur," tegasnya.
Saresehan ini diwarnai dengan berbagai curhatan warga yang menyampaikan uneg-unegnya terkait koperasi maupun program MBG. Salah seorang Perwakilan Warga/Masyarakat menyoroti proses birokrasi pinjaman di koperasi yang dinilai terlalu rumit dibandingkan meminjam kepada rentenir atau "Kosipa". "Tolong kepada warga masyarakat diberitahukan syarat pinjam ke koperasi itu apa. Warga bukan tidak mau mendukung program pemerintah, tetapi mohon maaf terkadang banyak yang bertele-tele dan banyak persyaratannya. Kalau ke Kosipa itu kita pinjam tidak bertele-tele, makanya warga sering mengambil solusi ke sana saat keadaannya terpepet," ungkapnya memberi masukan.
Sementara itu, warga lainnya yang merupakan Calon Anggota Koperasi berharap agar pendaftaran anggota koperasi bisa segera dipermudah dan diinformasikan secara jelas. "Koperasi itu terlalu lama untuk dibukanya. Jadi untuk masyarakat masih bingung. Cepat dibuka, saya ingin segera ikut menjadi anggota, dan tolong diperjelas harus ke siapa," tuturnya.
Terkait program MBG, forum saresehan ini juga memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ibu-ibu. Seorang Perwakilan Warga meminta agar program MBG dipertahankan dalam wujud makanan. "Kalau bisa MBG itu jangan diuangkan, apalagi ditutup, karena banyak yang menghasilkan (pendapatan) dari program MBG ini," katanya.
Namun, seorang Perwakilan Ibu Rumah Tangga lainnya memberikan pandangan berbeda, menyoroti kecocokan selera anak-anak. "Kalau kata saya lebih baik diuangkan saja. Karena banyak anak-anak yang tidak memakannya, banyak yang bilang bau (kurang berselera). Ibu-ibunya lebih tahu apa yang menjadi kesukaan anak-anaknya," bantahnya.
Meski menuai ragam pendapat, realisasi program sinergi MBG dan Koperasi ini nyatanya membawa dampak ekonomi yang sangat nyata bagi pelaku usaha kecil. Salah seorang Pelaku UMKM Lokal (Perajin Tahu dan Tempe) membagikan kisah suksesnya setelah bergabung menjadi penyuplai MBG melalui KDMP. "Sebelum ada MBG, usaha saya pendapatannya di bawah rata-rata. Tetapi setelah ada MBG dan saya menyuplai lewat Kopdes Merah Putih, omzet pendapatan saya naik sekitar 70 persen. Dulu saya belum punya karyawan, tetapi setelah dibantu pengurus koperasi untuk memasukkan produk tahu dan tempe saya ke MBG, sekarang saya jadi mempunyai karyawan," ungkapnya dengan penuh syukur.
Warga berharap agar segala produk subsidi baik dari Koperasi Desa maupun realisasi MBG nantinya tetap berpihak kepada rakyat, mampu menyerap produk UMKM lokal secara maksimal, dan harga-harga yang ditawarkan merupakan harga subsidi yang meringankan beban masyarakat.